Kemenangan Paris Saint-Germain di final Liga Champions 2025/2026 menghadirkan cerita yang cukup unik. Di tengah ketegangan laga melawan Arsenal yang berakhir lewat adu penalti, kiper asal Rusia, Matvey Safonov, justru mencatat statistik yang jarang terjadi dalam pertandingan sebesar ini. Ia nyaris tidak mendapat pekerjaan berarti sepanjang pertandingan dan bahkan menutup laga tanpa satu pun penyelamatan.
Dalam duel yang berlangsung sengit tersebut, Arsenal mampu mencetak gol cepat melalui Kai Havertz pada menit-menit awal pertandingan. Situasi itu membuat banyak pihak mengira Safonov akan menjalani malam yang berat. Namun kenyataannya berbeda. Setelah gol tersebut, lini pertahanan PSG tampil sangat disiplin sehingga pertahanan PSG di final Liga Champions mampu membatasi ancaman berbahaya dari Arsenal.

Sepanjang waktu normal hingga babak tambahan, Safonov tercatat tidak melakukan satu pun penyelamatan. Statistik tersebut menjadi sorotan karena sangat jarang seorang penjaga gawang tampil di partai final kompetisi terbesar Eropa tanpa mencatat save sama sekali. Meski demikian, kondisi tersebut bukan berarti ia bermain buruk, melainkan karena minimnya peluang bersih yang berhasil diciptakan Arsenal.
Pada gol yang dicetak Havertz, beberapa pengamat menilai Safonov terlihat terlambat bereaksi. Bahkan ada penilaian bahwa ia tampak seperti lupa menggunakan keunggulannya sebagai penjaga gawang saat mencoba mengantisipasi bola yang masuk ke gawang PSG. Namun setelah momen tersebut, pertandingan berjalan relatif tenang bagi sang kiper.
Situasi semakin menarik ketika laga berlanjut ke adu penalti. Biasanya penjaga gawang menjadi sosok sentral dalam momen seperti ini. Namun Safonov kembali menjalani malam yang tidak biasa. Ia tidak berhasil menggagalkan satu pun tendangan penalti Arsenal. Meski begitu, PSG tetap keluar sebagai pemenang karena para eksekutor mereka tampil lebih tenang dan salah satu penendang Arsenal gagal memanfaatkan kesempatan penting.
Fakta bahwa PSG mampu mempertahankan gelar Liga Champions meski kiper mereka tidak mencatat save maupun penyelamatan penalti menunjukkan betapa solidnya permainan tim secara keseluruhan. PSG juara Liga Champions 2026 bukan hanya karena kualitas individu, tetapi juga hasil kerja kolektif yang sangat matang di bawah arahan Luis Enrique.
Bagi Safonov sendiri, malam itu mungkin tidak akan dikenang sebagai penampilan terbaik dalam kariernya. Namun trofi tetap menjadi bagian dari catatan sejarahnya. Kiper berusia 27 tahun tersebut berhasil menambah koleksi prestasi bersama PSG dan menjadi salah satu pemain Rusia yang merasakan atmosfer kemenangan di panggung terbesar sepak bola Eropa.
Pada akhirnya, final Liga Champions kali ini membuktikan bahwa seorang kiper tidak selalu harus menjadi pahlawan dengan banyak penyelamatan untuk meraih gelar. Dalam kasus Matvey Safonov, ia menjalani pertandingan yang nyaris tanpa aksi, hampir seperti penonton di atas lapangan. Namun ketika peluit panjang berbunyi, namanya tetap tercatat sebagai bagian dari skuad PSG yang sukses mempertahankan mahkota juara Liga Champions, sebuah pencapaian yang akan tetap dikenang dalam sejarah klub asal Prancis tersebut.