DPR Tekankan Pentingnya Pembinaan Suporter untuk Masa Depan Sepak Bola Indonesia
Sepak bola Indonesia memang tidak pernah lepas dari gairah suporter yang sangat luar biasa. Namun sayangnya, gesekan antar kelompok suporter masih sering terjadi di berbagai daerah. Menanggapi fenomena ini, Wakil Ketua Komisi X DPR RI MY Esti Wijayati angkat bicara dan meminta agar upaya pembinaan suporter sepak bola lebih diutamakan ketimbang sekadar memberikan sanksi atau tindakan represif semata.
Mengedepankan Edukasi Dibandingkan Tindakan Tegas
Esti menekankan bahwa masalah kerusuhan tidak akan benar-benar hilang jika akar masalahnya tidak segera disentuh. Menurut beliau, insiden kericuhan suporter di Indonesia harus ditangani dengan pendekatan yang lebih humanis dan berkelanjutan. Pendekatan ini diharapkan mampu membangun kesadaran para pendukung tim kesayangan agar bisa bersikap lebih dewasa, baik saat memberikan dukungan di dalam stadion maupun saat berada di luar area pertandingan.
Baca juga: Bobotoh Siap-siap! Persib Siapkan Rute Konvoi Juara Lewati Kawasan Bersejarah Bandung
Tanggung Jawab PSSI dan Pemangku Kepentingan Terkait
Tidak hanya suporter yang menjadi sorotan, DPR juga menyoroti bagaimana peran PSSI dalam edukasi suporter memegang kunci yang sangat krusial. PSSI bersama PT Liga Indonesia Baru harus memiliki program kerja yang terukur untuk merangkul setiap koordinator lapangan dari berbagai basis suporter. Langkah ini sangat penting untuk menyamakan persepsi dan meminimalisir potensi bentrokan yang merugikan banyak pihak.
Kita harus mengutamakan pembinaan dan pendekatan yang sifatnya edukatif. Jangan sampai kita hanya fokus pada pemberian sanksi tanpa ada upaya serius untuk membina mereka sejak awal. Semua pihak harus duduk bersama untuk mencari solusi terbaik demi kemajuan liga kita.
Baca juga: Persija Jakarta Gagal Juara Super League 2025/2026 Karena Krisis Striker Tajam
Langkah Strategis untuk Keamanan Stadion
Dengan adanya program pembinaan yang berjalan baik, diharapkan standar keamanan pertandingan liga Indonesia dapat meningkat secara signifikan. Jika seluruh elemen suporter sudah teredukasi dengan baik, maka stadion akan kembali menjadi tempat yang aman dayaman bagi semua kalangan, termasuk bagi penonton keluarga dan anak-anak yang ingin menikmati hiburan olahraga tanpa rasa cemas.